Rabu, 03 Agustus 2011

“Muslim Tionghoa Cheng Ho”


Prof. Kong Yuanzhi
(Ed. 3, Pustaka Populer Obor, Jakarta 2007)
Cheng Ho, seperti yang dituturkan secara langsung oleh keturunan Cheng Ho ke-19, yaitu Tzeng Zhe Zhiang pada tanggal 19 September 1993 di Ninjing, Tiongkok, adalah seorang yang dilahirkan di desa He Dai kabupaten Kunyang Provinsi Yunnan, dari marga Ma, suku Hui yang mayoritas beragama Islam. Ayahnya seorang muslim yang telah menunaikan ibadah haji, begitupun dengan kakek dan buyutnya semuanya telah berhaji, dan seluruh keluarga Cheng Ho beragama Islam. Dengan demikian, keislaman Cheng Ho tidak diragukan lagi. Sampai saat sekarang pun keluarga besar marga Ma atau Cheng merupakan penganut agama Islam yang taat.
Ayah Cheng Ho bernama Ma Haji (1344-1382). Ma Haji adalah seorang pelaut, mempunyai enam anak, dua laki-laki dan empat perempuan, sedangkan Cheng Ho adalah anak ketiga. Cheng Ho berwajah lebar dengan hidung mancung, alis mata tegak, bermata jeli, bergigi putih bagaikan mutiara, dan bersuara lantang serta langkahnya gagah mirip harimau.
Dalam setiap pelayarannya, Cheng Ho pun telah melakukan manajemen strategi Nabi Muhammad SAW, yaitu manajemen Tao Zhugong, manajemen Confusiousme, dan manajemen Lautze yang luar biasa sempurnanya, yang telah diterapkannya 600 tahun yang lalu. Setiap pelayaran memakan waktu sekitar 2 tahun, dengan memimpin sekitar 208 kapal dalam 7 kali pelayaran. Dengan menerapkan manajemen tersebut, Cheng Ho dapat mengatur dengan apik system kerja dari awak kapalnya sesuai dengan tugas masing-masing. System kerja awak kapalnya terbagi dalam beberapa bagian, yaitu bagian komando, bagian teknik, bagian navigasi, bagian kemiliteran, bagian sipil, bagian kesehatan, bagian kebersihan, bagian logistic, bagian konsumsi dan sebagainya. Bagian konsumsi merupakan bagian yang sangat penting, karena bagian ini mengatur makanan yang bergizi untuk awak kapal selama sekitar 2 tahun. (Kata Pengantar Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, hal. xiv). Hal tersebut menunjukan bagaimana Cheng Ho telah mengimplementasikan job description sesuai dengan kompetensi para awak kapalnya, sekaligus telah menata manajemen staff function dengan baik.
Adapun tujuan sebenarnya Cheng Ho melakukan pelayaran, selain bersilaturahmi juga ingin menyebarkan/memperkenalkan agama Islam kepada penduduk setempat., bahwa Islam merupakan agama yang rasional dan Universal. Dalam memperkenalkan agama Islam kepada penduduk setempat, Cheng Ho tidak pernah memaksakan kehendaknya. Cheng Ho sangat menghargai agama lain yang dianut penduduk setempat.

Kepribadian Cheng Ho sebagai seorang yang saleh terbukti pula dengan upaya Cheng Ho dalam menanamkan toleransi antar agama. Ia juga menghormati aktivitas-aktivitas agama Budha dan Taoisme. Menurut catatan sejarah, Cheng Ho aktif memajukan penyebaran agama Islam, baik di Tiongkok maupun di negeri-negeri yang disinggahi selama pelayarannya. Usaha menyebarkan agama Islam berhasil karena Cheng Ho menebarkan benih persahabatan dan perdamaian yang diterapkannya. Begitipun menurut Buya Hamka dalam Star Weekly pada tanggal 18 Maret 1961, bahwa kapal-kapal Cheng Ho diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam. Beliau pun mengatakan bahwa senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak ialah “senjata budi” yang akan dipersembahkan kepada raja yang diziarahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar